Malas Mikir, Akar Intoleransi di Indonesia


Iqra. Adalah perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Iqra dalam bahasa inggris terbagi atas dua, “read” atau “recite”. Read berarti paham dengan kata-kata (simbol) yang tertulis. Sedangkan recite berarti secara verbal mengulangi hapalan yang sudah disimpan dalam memori kepala kita (dengan suara keras). Sederhanya, iqra berarti membaca.
Dalam pandangan saya, Allah SWT. berfirman iqra sebagai ayat pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah (melalui malaikat Jibril) semata-mata bertujuan memberitahukan Nabi Muhammad bahwa Islam sangat mengedepankan aspek pengetahuan dan pemahaman, yang selanjutnya disebut literasi. Literasi yang dimaksud adalah kemampuan untuk membangun reasoning dan pola pikir yang baik atas suatu hal, bukan menjadi yes man atau taqlid tanpa memahami dasarnya “kenapa hal ini benar?” atau “kenapa hal itu salah?”
Namun sebelum itu semua, kita sebagai umat muslim terlebih dahulu diajak untuk berpikir. Menggunakan akal yang sudah diberikan Tuhan untuk menghayati alam semesta. Hal ini sejalan dengan banyaknya ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang menyeru kita untuk berpikir, untuk memperhatikan langit dan bumi. Mulai dari surah Ali Imran ayat 65, Al-Baqarah ayat 219, An Nisa ayat 82, Al Anam ayat 32, dan seterusnya. Itu artinya, Islam sama sekali tidak mengantagoniskan pemikiran (logika). Justru kita diperintah untuk tabayyun terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita.
Sayang, jauh panggang dari api. Ada sebagian umat Islam di Indonesia yang menganggap praktik berpikir bisa membawa pada kesesatan, ateisme, dan juga liberal. Mereka menganggap bahwa Islam tidak bisa berjalan beriringan dengan logika. Sehingga kita tidak bisa mempertanyakan apalagi membantah kebenaran Islam dan Tuhan. Menelan mentah-mentah Al-Qur’an secara harafiah tanpa mengetahui azbabun nuzul­­­-nya dan tanpa mengetahui konteksnya. Begitu pula hadis-hadis yang dipahami secara telanjang oleh pengikut-pengikutnya. Ayat tentang poligami misalnya, yang sering berseliweran di akun-akun dakwah media sosial yang sering diambil hanya sepotong-sepotong. Atau ayat untuk membunuh kafir yang diteriakkan oleh sebagian muslim saat kasus penistaan agama yang belum lama ini mencuat.
Hal ini pada takaran yang lebih lanjut bisa mengakibatkan beberapa sikap yang salah, seperti : fanatisme buta, perasaan benar sendiri, dan intoleransi. Saya sendiri sudah kenyang dengan fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini, yang melibatkan umat muslim. Mulai dari pembakaran bendera HTI, kasus penistaan agama yang katanya dilakukan oleh duo stand-up comedian Coki Pardede dan Tretan Muslim, masalah volume azan yang dikeluhkan oleh seorang ibu yang kebetulan non-muslim, penistaan agama oleh Ahok, dan masih banyak lagi.
Karena kemalasan berpikir, kita jadi lebih mengedepankan emosi ketimbang akal. Banyak yang teriak anti-kafir dan mencap seorang penista agama halal darahnya untuk dibunuh. Padahal kita lupa, seseorang yang bukan saudara seiman adalah saudara dalam kemanusiaan. Kita terlalu fokus untuk memerangi orang yang berbeda dengan kita, dan tidak sadar bahwa Allah menciptakan manusia beragam-ragam. Lupa bahwa Islam menyerukan toleransi terhadap semua makhluk. Dan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta.
            Ironisnya lagi, kita umat islam Indonesia, senang sekali membanggakan kejayaan Islam berabad-abad silam. Sampai lupa bahwa hidup ini dinamis dan terus berjalan. Pertanyaannya, mau sampai kapan kita terjebak pada fragmen-fragmen kejayaan masa lalu, dan lupa bahwa kita hidup di masa sekarang?
Kita umat Islam, belum mampu mengejar ketertinggalan dari orang-orang yang sering kita sebut kafir. Ihwal, kita lebih sering memperdebatkan hal-hal yang cetek. Seperti, apakah kejadian gempa di Palu beberapa waktu kemarin akibat dari perilaku LGBT masyarakat di sana, atau mungkin murka Allah karena rakyatnya musyrik.
Kegagalan budaya berpikir (ilmiah) dan mencari ilmu pengetahuan ini terus menerus menurun dari puncaknya ketika dinasti Umayyah dan Abbasiyah berkuasa.  Saya analogikan, umat islam Indonesia saat ini sedang menaiki sebuah kereta uap yang melewati terowongan yang sangat panjang dengan kecepatan yang sangat lambat. Kita sibuk melambai dan mengagumi cahaya yang ada di ujung terowongan. Tetapi lupa memperhatikan bahwa kita sedang berada di terowongan yang sangat gelap, dan melupakan tujuan akhir dari kereta yang kita naiki berada di depan, di ujung terowongan yang satunya lagi. Kita bisa saja mempercepat laju kereta dengan mulai menyalakan bahan bakar berupa ilmu pengetahuan dan kemauan berpikir. Untuk menyambut cahaya baru, dengan perlahan-lahan menghadap ke depan.
            Barangkali, di saat kita sudah mau untuk berpikir dan menggunakan akal, sikap intoleransi, fanatisme buta, dan perasaan benar sendiri hanya akan sedikit jumlahnya. Kita perlu belajar untuk mulai mempertanyakan hal-hal yang sudah ada. Teruslah bertanya, tentang Dia, tentang Al-Qur’an, atau tentang apapun. Jadilah muslim yang baik dengan selalu bertanya. Jangan menyia-nyiakan hadiah Allah yang sangat berharga, yaitu otak. Gunakan daya pikir kita dengan semaksimal mungkin!

Comments

Popular posts from this blog

6 Rakaat VS 2 Rakaat