6 Rakaat VS 2 Rakaat
Hari kemarin, saya--tidak seperti biasanya, melaksanakan solat sunnah dhuha 6 rakaat. Biasanya, sih 2 rakaat. Ya, bukannya apa-apa, hari itu, saya--bersama mahasiswa stis 60 lainnya- harus mengikuti uas jarak jauh di tempat tinggal masing-masing karena masih terjebak coronski. Jujur, hari itu capek sekali!
Bagaimana tidak, saya harus mengikuti ujian mata kuliah Statistika Matematika 2, matkul tersulit segalaksi bimasakti, setidaknya menurut saya sendiri y. Mana coronski kan, apa-apa harus belajar secara mandiri, otodidak, independen, seorang diri, otonom, ah you name it lah. bajingan pokoknya.
Sebenarnya saya sudah terbayang-bayang akan remidi kalau-kalau ujian kali ini tidak berhasil (lagi). Sebab muasalnya ya karena nilau uts saya yang terjerembab di dalam gorong gelap lembab yang dipenuhi sawang. jauh terperosok. terperosok sekali. hahaha. Tapi sayangnya hari-hari yang seharusnya saya gunakan untuk melawan kebodohan akan statmat malah saya sia-siakan dengan melakukan hal lain. goblok sekali ya.
![]() |
| (ga tau gambarnya nemu di twiiter) |
Bahkan sampai sehari sebelum hari-H pun, saya masih mencari-cari alasan supaya tidak belajar. Nge-tweet bentar lah, IG dikit lah, rebahan dikit lah, merencanakan kudeta Jokowi lah, ngebayangin wajah Prabowo kalo jadi cewe lah. Ada-ada aja lu. Hal itu berlangsung sampai malam harinya. Sampai tersisa H-12 jam. Gila! Ini kalo tidak belajar, saya harus isi apa di lembar jawaban, masa pakta integritas dan nama ibu kandung. Setidaknya saya harus belajar sekarang juga, tidak ada kata telat untuk belajar. Namun apa daya, semangat juangku luntur begitu saja saat rasa kantuk mulai menyerang saraf-saraf mataku. Yasudah tidur saja.
![]() |
| (https://id.pinterest.com/pin/709035535062049010/) |
Jam 4 pagi saya terbangun untuk menunaikan sahur bersama keluarga. Hangat seperti biasanya. Namun otak menjadi panas mengingat saya harus ujian jam 9 pagi nanti. Setelah sahur, saya rebahan dikit (bukannya belajar ya lu gbleck) sambil menunggu azan subuh. Tidak lupa solat sunnah qabliyah dua rakaat agar bisa memperoleh pahala yang melebihi dunia dan seisinya, dilanjut solat fardu subuh. Bahkan di tengah kekalutan karena kebodohan statmat, saya masih bisa istiqamah di jalan Allah. Selepas solat, saya lanjut tidur :(
Pukul 6 saya terbangun, setelah sebelumnya mengecek baterai handphone yang sedang dicas (biasa, gen Z). Tentu saja terbangun di sini artinya saya masih berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan nyawa dengan rebahan sebentar di kasur. Pukul 7, saya baru bisa terlepas dari kasur dan mulai duduk di meja belajar. Berusaha mengulang kembali materi kisi-kisi dari pak Dokhi yang saya dapatkan dari KSM Online kelas. Tapi selama waktu berputar, di situ pula saya merasakan penyesalan atas kemalasan yang terpelihara kemarin-kemarin. Usaha yang sia-sia pikirku, semalaman hanya tidur, dan nekat mengikuti ujian, statmat lagi! Hadeuh, gblecknya. Sampai saya memikirkan jalan pintas lain yang hanya bisa ditawarkan oleh kemampuan spiritualitas manusia. Saya nekat solat dhuha 6 rakaat--biasanya sih 2 saja. Berharap Allah lebih mendengar doa-doa saya daripada sebelumnya agar soal yang keluar sesuai kisi-kisi dan saya bisa lancar mengerjakannya (ga ada usaha tapi mau banyak, maruk banget yaAllah). Tidak habis pikir, saya masih mencoba cara tidak tahu malu lainnya dengan nekat meminta doa restu ibuku yang lagi di dapur. kan katanya ridha Allah berada pada ridha orang tua. ya ga ;(
Setelah itu saya kembali ke kamar, mengunci pintu, lau mencoba menenangkan saraf-saraf yang sedari tadi tegang entah kenapa. Napas mulai tidak karuan padahal mengunduh soal saja belum. Doa-doa mulai saya rapalkan, hati komat kamit berkata 'jangan panik, jangan panik'. Jantung berdegup sangat kencang sampai saya menekan tombol unduh soal, lalu mulai mengerjakannya.
Selama mengerjakan, hati tidak karuan melihat soal. Keringat mulai bercucuran, baju berubah warna menjadi lebih gelap, dan kunciran rambut kehilangan fungsinya sebab masih saja rambutku berantakan. 30 menit, sejam, 2 jam. Dan yak, waktu habis. Semua perasaan tidak mengenakkan saya rasakan seakan itu adalah ujian terberat dalam hidup saya. Namun saya bisa mengerjakannya, tidak selesai, namun rasa-rasanya lebih baik dari uts. Sedikit banyak ini karena Yang di Atas membantu saya, melalui ciptaan-Nya, manusia :)
Walaupun begitu, rasanya ingin marah. Marah sama diri sendiri yang sudah lalai dalam mengatur waktu. Mengentengkan sesuatu sampai saya sendiri harus merasakan perasaan-perasaan tidak menyenangkan itu. Malu karena meminta hal-hal yang saya sendiri tidak berikhtiar untuk mendapatkannya, tapi masih saja Allah mau membantu. Aih, malu sekali.
'Neraka perasaan' yang saya alami itu adalah manifestasi kebobrokan pribadi terhadap kufurnya nikmat waktu dan tenaga yang Allah limpahkan kepada saya, namun malah berbuat lalai. Kalau dipikir-pikir lagi, begitu naifnya saya saat menghamba. Berharap Tuhan entah dari mana secara ajaib melimpahkanku rahmat menjadi seorang jenius saat saya sendiri tidak berupaya untuk mengejar kemajuan. hahaha.
note: jangan tanya kenapa saya menambah jumlah rakaat dalam solat waktu itu. Kau sudah tahu semuanya.


Comments
Post a Comment